Hormon Testosteron

Sebenarnya rahasia dari keperkasaan pria terletak pada testosteron, yang merupakan hormon seks pria. Testosteron penting bagi perkembangan seorang anak lelaki menjadi pria dewasa selama masa pubertas dan diperlukan untuk kinerja fisik, mental dan seksual seorang pria.

Selama ini testosteron yang diproduksi dalam testis lebih dikenal sebagai hormon seks padahal selain aktivitas seksual, testosteron memiliki banyak fungsi lain yang penting untuk kesehatan pria, sesuai dengan perkembangan tubuh lelaki, yang memberikan perubahan pada beberapa bagian tubuh.

Misalnya, testosteron menyebabkan pecahnya suara dan menyebabkan suara pria menjadi dalam. Biasnya lebih tampak saat pria akil balik. Testosteron bertanggung jawab terhadap pembentukan rambut, janggut atau kumis; Membentuk dan memelihara struktur tulang; Membantu pembentukan sel-sel darah merah; Membentuk dan memelihara otot-otot; Mempertahankan daya ingat, konsentrasi, keseimbangan mental, dan mempengaruhi mood (suasana hati); Penentu bentuk tubuh pria; dan pemain utama pengatur hasrat dan fungsi seksual.

Tingkat testosteron sendiri bervariatif terhadap beberapa pria, dengan perhitungan normal antara 12 dan 35 nmol/l. Sementara nilai di bawah 12 nmol/l perlu diobati, jika ada gejala kekurangan testosteron, yang biasanya lebih dikenal dengan hipogonadisme.

Hipogonadisme sendiri dibagi dalam dua kategori, primer dan sekunder, yang lebih ditentukan dengan level testosteron. Menurut keterangan Prof. Louis Goorenp, penulis 'Textbook of Men's Health' yang dilansir dari situs kesehatan mayoclinic.com, mengatakan berkurangnya testosteron terjadi saat testis tak lagi berproduksi dalam jumlah memadai atau hanya sedikit, padahal rata-rata testis setiap harinya memproduksi sekurangnya 5-7 mg testosteron.

Hipogonadisme bisa bersifat congenital (ada sejak lahir) atau terjadi karena sebab yang berhubungan dengan fungsi kelenjar hipotalamus pituitari pada otak, pertambahan usia, atau menderita penyakit. Gejala ini menyebabkan hilangnya kepadatan mineral tulang yang bisa mengakibatkan osteoporosis, hilangnya massa otot yang otomatis menyebabkan fisik melemah.

Sementara menurut endokrinolog dari Vrije Universiteit Medical Center, Amsterdam, BelAnda, bila hasrat seksual hilang, terjadi disfungsi ereksi, otot-otot mengecil, lemak tubuh meningkat, mudah marah, depresi, anemia, osteoporosis, dan produksi sperma terganggu, artinya terjadi proses hipogonadisme. Meskipun keadaan tersebut bervariatif pada setiap orang.

Bila level testosteron turun sebelum masa pubertas, kedewasaan seksual akan menurun, bahkan tidak muncul, meski tinggi badan tetap naik, dan suara berubah. Jika terjadi setelah masa puber (karena faktor keturunan atau penyakit), gejala yang mungkin timbul berupa gangguan tidur, kelelahan kronis, mudah tersinggung, lesu, nafsu seksual hilang, mudah tegang, muncul rasa panas di sekitar dada dan leher, disfungsi seksual, atau terus menerus berkeringat.

Gejala lain, menurunnya kekuatan otot dan genggaman, pertumbuhan janggut terhambat, dan performa secara keseluruhan menurun. Kulit menjadi kering dan kasar, berat badan bertambah secara bertahap, massa otot hilang, dan porsi lemak semakin bertambah, terutama di bagian perut dan pinggul.

Selain itu, jika Anda mulai cenderung mudah mengeluh merasa tak puas, tak mampu berkonsentrasi dan mengingat dengan baik. Jika keadaan ini terus berlangsung, akan sangat merepotkan dan membuat hidup tak lagi nyaman.