|
Male Sex Power - Pria
Perkasa
Detail
Produk:
Nama Produk: Male Sex
Power
Ukuran Keseluruhan:
417 MB Format MP3 dan WAV + Ebook petunjuk penggunaan,Ebook keterangan isi produk
dan Ebook Panduan Memperbesar Penis.
Dalam CD ini berisi Terapi
Gelombang Otak Male Sex Power:
-
Format MP3 45,7 MB Durasi
20 Menit (Musik Relaksasi, Gelombang Gamma 40 Hz)
-
Format MP3 68,6 MB Durasi
30 Menit (Suara Alam, Gelombang Gamma 15 - 30 Hz)
-
Format WAV 302 MB Durasi
30 Menit (Suara Alam, Gelombang Gamma 15 - 30 Hz)
Harga Rp 85.000 (belum
termasuk ongkos kirim)
Keterangan:
CD Audio Gelombang Otak - Male Sex
Power berfungsi merangsang otak untuk mendorong pertumbuhan hormon
seks pria. CD ini tidak boleh didengarkan oleh wanita, karena bisa
menjadikan wanita tomboi. Jika anda menggunakan CD ini, pastikan
anda sudah punya pasangan atau punya "tempat" untuk menyalurkan
nafsu seks anda. Ini demi kesehatan anda, karena bila nafsu seks
yang tinggi tidak tersalurkan bisa mengakibatkan gangguan kesehatan.
Hormon seks merupakan zat yang
dikeluarkan oleh kelenjar seks dan kelenjar adrenalin langsung ke
dalam aliran darah. Mereka secara sebagian bertanggungjawab dalam
menentukan jenis kelamin janin dan bagi perkembangan organ seks yang
normal. Mereka juga memulai pubertas dan kemudian memainkan peran
dalam pengaturan perilaku seksual.
Hormon-hormon seks utama dapat
dibedakan menjadi estrogen atau androgen. Kedua kelas hormon ini ada
pada pria dan wanita, namun dalam kadar yang berbeda. Kebanyakan
pria memproduksi 6-8 mg testosteron (sebuah androgen) per hari,
dibandingkan dengan kebanyakan wanita yang memproduksi 0,5 mg setiap
hari. Estrogen juga ada pada kedua jenis kelamin, namun dalam jumlah
yang lebih besar pada wanita. Meski sama-sama memiliki hormon
seksual (testosteron) yang sama, namun ternyata pria dan wanita
memiliki level yang berbeda, terutama pada mereka yang berbadan
subur.
Hasil studi yang dilansir Reuters, Senin (11/12), menyebutkan pria
berbadan gemuk seringkali mengalami penurunan tajam tingkat
testosteron. Sementara perempuan berbadan gemuk justru mengalami
peningkatan tingkat hormon seks yang jauh lebih tinggi dibandingkan
perempuan dengan berat tubuh normal.
Dalam dua studi terpisah yang diterbitkan Journal of Clinical
Endoctrinology and Metabolism menunjukan peningkatan risiko
kesehatan baik bagi pria bertubuh gemuk maupun perempuan berusia
belasan tahun yang mengalami kegemukan (obesitas).
Testosteron adalah hormon utama seks pada pria, kendati zat tersebut
juga ditemukan dalam diri kaum perempuan. Hormon tersebut membantu
mempertahankan massa otot dan kepadatan tulang dan mempertahankan
daya seks serta energi fisik pada tingkat yang sehat.
Tingkat testosteron biasanya turun seiring bertambahnya usia pada
kaum pria. Namun bagi mereka yang mengalami penambahan berat badan
--setidaknya 13,6 kg bagi pria dengan tinggi sekitar enam kaki
(1,83m)-- akan kehilangan testosteron sama banyaknya jika usia
mereka bertambah 10 tahun, kata para ilmuwan dari New England
Research Institues, yang melakukan studi terhadap 1.667 pria.
Mereka yang mengalami kejadian traumatis, seperti kehilangan istri
juga mengalami penurunan tingkat testosteron dalam jumlah yang sama.
Sementara itu perempuan bertubuh gemuk saat melalui masa puber
memiliki masalah yang justru bertolak-belakang.
Para peneliti dari University of Virginia dan beberapa universitas
lain mendapati perempuan bertubuh gemuk memiliki dua sampai sembilan
kali lebih banyak tingkat testosteron dibandingkan dengan perempuan
berbadan normal.
Itu dapat mengganggu kesehatan reproduksi, mengakibatkan dampak yang
tak diinginkan seperti pertumbuhan rambut secara berlebihan dan
membuat mereka menghadapi risiko lebih besar untuk terserang
diabetes, jelas para peneliti yang mengambil keseimpulan tersebut
usai melakukan studi pada 104 perempuan.
Kenali Dulu
Sebenarnya rahasia dari keperkasaan pria terletak pada testosteron,
yang merupakan hormon seks pria. Testosteron penting bagi
perkembangan seorang anak lelaki menjadi pria dewasa selama masa
pubertas dan diperlukan untuk kinerja fisik, mental dan seksual
seorang pria.
Selama ini testosteron yang diproduksi dalam testis lebih dikenal
sebagai hormon seks padahal selain aktivitas seksual, testosteron
memiliki banyak fungsi lain yang penting untuk kesehatan pria,
sesuai dengan perkembangan tubuh lelaki, yang memberikan perubahan
pada beberapa bagian tubuh.
Misalnya, testosteron menyebabkan pecahnya suara dan menyebabkan
suara pria menjadi dalam. Biasnya lebih tampak saat pria akil balik.
Testosteron bertanggung jawab terhadap pembentukan rambut, janggut
atau kumis; Membentuk dan memelihara struktur tulang; Membantu
pembentukan sel-sel darah merah; Membentuk dan memelihara otot-otot;
Mempertahankan daya ingat, konsentrasi, keseimbangan mental, dan
mempengaruhi mood (suasana hati); Penentu bentuk tubuh pria; dan
pemain utama pengatur hasrat dan fungsi seksual.
Tingkat testosteron sendiri bervariatif terhadap beberapa pria,
dengan perhitungan normal antara 12 dan 35 nmol/l. Sementara nilai
di bawah 12 nmol/l perlu diobati, jika ada gejala kekurangan
testosteron, yang biasanya lebih dikenal dengan hipogonadisme.
Hipogonadisme sendiri dibagi dalam dua kategori, primer dan sekunder,
yang lebih ditentukan dengan level testosteron. Menurut keterangan
Prof. Louis Goorenp, penulis 'Textbook of Men's Health' yang
dilansir dari situs kesehatan mayoclinic.com, mengatakan
berkurangnya testosteron terjadi saat testis tak lagi berproduksi
dalam jumlah memadai atau hanya sedikit, padahal rata-rata testis
setiap harinya memproduksi sekurangnya 5-7 mg testosteron.
Hipogonadisme bisa bersifat congenital (ada sejak lahir) atau
terjadi karena sebab yang berhubungan dengan fungsi kelenjar
hipotalamus pituitari pada otak, pertambahan usia, atau menderita
penyakit. Gejala ini menyebabkan hilangnya kepadatan mineral tulang
yang bisa mengakibatkan osteoporosis, hilangnya massa otot yang
otomatis menyebabkan fisik melemah.
Sementara menurut endokrinolog dari Vrije Universiteit Medical
Center, Amsterdam, Belanda, bila hasrat seksual hilang, terjadi
disfungsi ereksi, otot-otot mengecil, lemak tubuh meningkat, mudah
marah, depresi, anemia, osteoporosis, dan produksi sperma terganggu,
artinya terjadi proses hipogonadisme. Meskipun keadaan tersebut
bervariatif pada setiap orang.
Bila level testosteron turun sebelum masa pubertas, kedewasaan
seksual akan menurun, bahkan tidak muncul, meski tinggi badan tetap
naik, dan suara berubah. Jika terjadi setelah masa puber (karena
faktor keturunan atau penyakit), gejala yang mungkin timbul berupa
gangguan tidur, kelelahan kronis, mudah tersinggung, lesu, nafsu
seksual hilang, mudah tegang, muncul rasa panas di sekitar dada dan
leher, disfungsi seksual, atau terus menerus berkeringat.
Gejala lain, menurunnya kekuatan otot dan genggaman, pertumbuhan
janggut terhambat, dan performa secara keseluruhan menurun. Kulit
menjadi kering dan kasar, berat badan bertambah secara bertahap,
massa otot hilang, dan porsi lemak semakin bertambah, terutama di
bagian perut dan pinggul.
Selain itu, jika Anda mulai cenderung mudah mengeluh merasa tak puas,
tak mampu berkonsentrasi dan mengingat dengan baik. Jika keadaan ini
terus berlangsung, akan sangat merepotkan dan membuat hidup tak lagi
nyaman.
|